Usulan ini hanya dari seorang Awam yang baru beberapa bulan tinggal di Jakarta, jadi mungkin kurang banyak Tahu pemikiran ataupun proyek apa saja yang sudah pernah dilaksanakan ?

Mudah2an Bapak2 memiliki waktu untuk membaca Usulan ini, agar Jakarta menjadi salah satu Kota Ramah Alam DI DUNIA (Eco City).
Jakarta tidak perlu menjadi Kota Masdar di Abu Dhabi yang di juluki World's first zero-carbon City Yang jelas masalah banjir dan kekurangan Air akibat kemarau panjang di Jakarta sudah saya alami dalam waktu singkat saya hidup di Jakarta.

Apalagi masalah Kepanasan, Saya alami setiap saat!!!...Puji Tuhan Rumah dan Mobil yg. Saya gunakan Full Aircoditioning......ha...ha..ha....tetapi bagaimana masyarakat lainnya yang tidak memilikinya dan harus naik Mikrolet setiap hari???
Dan saya sendiri orang yang paling tidak suka mendengar Keluhan ataupun kritik2 tanpa solusi ataupun jalan pemecahan suatu masalah, jadi sebagai warga DKI yang baru ingin sedikit Pro Aktif dan ingin melakukan DKN (Demo Kerja Nyata)...dan bukan hanya ber Demo ke Balai Kota untuk menuntut lebih banyak Hak nya tanpa mau menyempurnakan kewajibannya.

Beri pemecahan dan Solusinya baru melarang dan mengeluh bukan terbalik, kalau hanya melarang dan mengeluh ...ada semboyan anak Semarang zaman saya muda...dulu “kere meteng ae iso“..yang artinya...Gembel Bunting aja bisa!!           ....maksudnya orang yang sudah sangat sengsara saja bisa melarang dan mengkritik.......tetapi tidak bisa memberi jalan pemecahannya...ataupun mau bersusah payah untuk ikut serta memikirkannya.

Nah ini usulan saya!:




  • Dibawah saya berikan gambar contoh kemungkinan-kemungkinan nya karena „Satu gambar itu lebih daripada seribu kata-kata“, saya meminjam gambar2 dari bebarapa situs yang saya hubung kan Linknya, mohon tekan diatas gambar untuk mengunjungi link tersebut.


Kalau kita Bayangkan di antara pepohonan yg. ada di jalan Jendral Sudirman di pasang beberapa rotor DARRIUS seperti ini.


  • Pemerintah DKI lebih lagi mempererat kerja-sama dengan Pemuka Agama, Organisasi ramah lingkungan dan Karang Taruna di wilayahnya, untuk bergotong-royong menanggulangi masalah Banjir dan Panas nya Kota Jakarta bersama-sama, karena masalah itu bukan lah hanya permasalahan pemerintah Jakarta, tetapi juga permasalahan masyarakat Jakarta.
  • Mendirikan Kincir angin di mana2....terutama di taman2 Kota ataupun tanah Kosong yang sedikit jauh dari perumahan ataupun di samping Masjid / Mushola / Gereja / Klenteng atau rumah suci lainnya. Hal ini juga untuk sekalian menunjukan kependuduk sekitarnya bahwa Sang Pencipta itu betul2 Maha Pemurah dan Penyayang, siapapun nama panggilannya.


  • Mereka dapat langsung merasakannya dengan nyata sesaat mereka mendapatkan sinar Lampu dan Air yang murah dan berlimpah Ataupun di Halaman sekolah atau perkantoran yang luas, agar para siswa secara tidak sadar berminat untuk mempelajari pengetahuan mengenai penghasil tenaga, bebas Polusi.
  • Dwi fungsi Kincir angin itu sebenarnya selain membuat angin kecil yang menyejukan daerah sekitarnya sekaligus mendorong kepadatan Polusi, juga dapat di gunakan untuk daya pembangkit tenaga listrik kecil.
  • Pembangkit Tenaga Listrik kecil ini gunanya juga untuk meno-long pihak PLN untuk menjaga harga listrik per Kilowat nya murah.
  • Diperkampungan Jakarta bisa menjadi Pompa air untuk Masyarakat sekitarnya ataupun untuk Pembangkit tenaga listrik guna menerangi Pos Hansip ataupun titik jalan yang gelap.
  • Ada berbagai jenis kincir Angin yg. Dapat di pasang diseluruh kota Jakarta, dan dapat menjadi satu Pengetahuan tambahan untuk warga Jakarta.

Gunanya Kincir Angin di Kota Jakarta :


  • Di Taman-tamannya yang terkena udara yang segar dari hembusan Kincir Angin yang membuat tempat itu juga bebas nyamuk ataupun Lalat. Kalau di tempat tersebut disediakan bisa disediakan bangku dengan Lampu penerangan yang sangat terang cukup untuk Membaca ataupun Belajar Bersama bagi para Pelajar yang kurang mampu, dan pengap untuk belajar di gubuk orang tuanya.dan bukan tempat maksiat.


  • Selain itu Energi Listrik yang dihasilkan dapat di gunakan untuk Pompa air bagi penyiraman Taman itu sendiri ataupun penyejuk Taman lainnya, ataupun pemakaian untuk Pompa disaat Banjir.

  • Masih banyak lagi kegunaannya, karena itu silahkan Teman2 pembaca Bloger ini untuk menambahkannya dan memberikan Komentarnya.
  • Jadi Taman berkincir Angin ini juga secara Tak langsung menyokong Program Pemerintah membaca 15 Menit per Hari, seperti Kincir-kincir angin Modern di beberapa kota dinegri Belanda untuk membantu Program pemerintahan dalam Export Listrik ke Negara Tetangga.
Konon kabarnya sudah ada pemikiran untuk membikin Polisi2 Tidur di Jalan Jendral Sudirman, yang berjarak satu sama lain sekitar 5m.

Guna dari Polisi Tidur di jalan Jendral Sudirman ini adalah untuk:
  • Membuat jalan Jendral Sudirman lebih macet lagi dan para Pengemis
    dan penjaja di jalanan lebih memiliki waktu lebih banyak melakukan hajat dan ibadahnya.
  • Agar biaya Transportasi bisa lebih membengkak, disebabkan banyaknya bahan bakar yang di pakai dan kerusakan onderdil mobil yang disebabkan oleh goncangan2 Polisi Tidur.
  • Untuk menghambat pertumbuhan perekonomian Indonesia yang terlalu kencang, dan banyak menimbulkan korban jiwa.
  • Untuk menghormati Tamu Asing di Hotel International agar bisa berjalan dan beristirahat denganTenang dan para pegawai di Perkantoran didaerah Jendral Sudirman lebih konsentrasi dan produktif.

    STOP...STOP....STOP.......BERHENTI BERMIMPI BURUK,,,!!!
Polisi Tidur di Indonesia memang sudah banyak di bahas dan juga mempersulit Perjalanan saya, oleh Polisi tidur dan Lobang2 jalanan yg.berbahaya.

Dari Situs2 yg, saya baca tentang itu Panjimas, Trainer Laris, Pak Ichan, Lensa Terkini.. ada beberapa pemikiran yang ingin saya utarakan lebih jelas misalnya:

Polisi Tidur dilihat dari sisi:
  • Agresivitas
  • HAM
  • Keagamaan
  • Dan beberapa pandangan lainnya.

Nah Saya ingin mengajak Anda membuka pembicaraan tentang itu semua dan mencari pemecahannya,tetapi sama sekali bukan utk. Memprovokasi atau merendahkan sesuatu golongan.

Kalau di lihat dari segi Agresivitas: dimana adanya polisi tidur yang sering kali malah menimbulkan kecelakaan.
Itu menunjukan adanya legalisasi bagi masyarakat Jakarta untuk mencelakakan orang lain dan secara agresif menunjukan kekuasaannya.
Masyarakat yang baru setengah Modern, tetapi sudah lupa dengan tradisinya sendiri yang mengutamakan #tegang rasa# dan #Tepo Seliro#.

Saya Sering menghitung berapa jarak antara satu Polisi tidur dengan Polisi tidur berikutnya, terutama di daerah perkampungan itu berkisar antara 5 – 15 meter.

Polisi tidur itu dibuat agar Kendaraan yg. Melewati jalanan tersebut yg, sangat agresif dan kencang dengan knalpotnya yang bising tanpa menghormati penghuni disitu, untuk dipaksa berjalan pelan dan menghindarkan
bahaya kecelakaan.

Seperti dalam pepatah Jerman Wer nicht hören will, muss fühlen (barang siapa yang tidak bisa mendengar, harus merasakan).
Maksudnya seseorang yang tidak mau atau sanggup mendengar, baik itu kata hatinya sendiri ataupun himbauan masyarakat sekitarnya.

Diantara para Pengendara yang melintasi jalan itu dengan cepat, mungkin ada beberapa aktivis dari HAM (Hak Azasi Manusia) yang pada hakikatnya mengutamakan kebebasan hidup seorang manusia yang saling menghormati,dan selama hak kebebasan itu tidak merugikan manusia lainnya.

Apabila orang2 itu berjalan dengan cepat dikawasan tersebut tanpa mengacuhkan ketetraman dan keselamatan penduduk disekitar jalan yang mereka lintasi dengan alasan ingin tepat waktu menghadiri rapat atau Demo organisasi #HAM# mereka, berarti mereka tidak berlaku sesuai dengan idealis mereka dan pandangan hidup mereka!.

Apakah orang2 seperti diatas itu yang disebut sebagai orang #Munafik#
penilaian ini kita serahkan saja kepada para ahli Agama.

Kalau kita mulai membahas masalah ini dari sudut Agama, maka
yang saya cari adalah sumber di Internet seperti Komposisi Agama di Indonesia atau himbauan dari satu Agama mengenai prilaku penganutnya di jalanan.



































Jadi setelah saya dapatkan informasi bahwa Penganut agama Islam sebanyak 207,2 Juta, maka dapat di simpulkan lebih dari separuh jumlah Penduduk di Jakarta adalah orang2 yang mengenal Menyingkirkan gangguan dari jalanan dalam alquran.

Bagi penganut agama lain pasti juga ada himbauan seperti itu, tetapi sayangnya saya belum menemukan di Google, kalau kalimat Menyingkirkan gangguan dari jalanan dalam alquran saya ganti dengan (dalam Injil, dalam Bibel,dalam Alkitab, dalam Agama),

Tetapi pada intinya kalau kita melihat keadaan Jalanan di Jakarta dan tingkah prilaku para Pengemudi, dapat kita simpulkan bahwa mereka bukan orang yg. secara hakikatnya patuh agama dan hanya secara Fisiknya saja memakai Seragam Soleh dan sudi memberi sedekah dengan memberi jalan untuk orang lain dan sabar untuk sampai ketempat tujuan.

Semua sok Sibuk, sok mau cepat sampai tujuan untuk kebanggaan semu ….

Eh Gua Dari kebayoran sampai kuningan cuman 30 menit Lho....Salib kanan kiri...serobot kanan kiri....diperumahan atau jalan sempit yg, nggak ada polisi tidur gua jalan 40 km/jam membahayakan orang lain


Jadi teringat dulu kalau saya berlibur ke Jakarta, semua kakak beradikku dan ponakanku yang pernah hidup di Luar wilayah indonesia, selalu menyambutku dengan #Welcome to the Jungle#....sekarang aku memahami betul apa arti dan makna dari kalimat itu.

Tidak lupa saya ingin menunjukan Kekaguman saya kepada Bupati dr. Faida dan Wakil Bupati Jember Drs. KH. Ad. Muqit Arief


HOW WE MEET AND ALL THOSE BEGIN

It was Summer 1994 as my Professor at University of Cologne send me to The Research Institute for Operations Management (FIR) in Aachen to learn the basic of communication between two Computers, because at that time was not so easy like now a days.I should learn all about it as a part of my preparation for the journey in indien, to send all report from the place where new culture wave will born to my professor.I should meet a really good friends from my Professor there, DR. Labello ! a really friendly, respected an Scientific man, who already pointed one of his technical assistant to teach me about all that stuff.It was a sunny shine Morning, the weather was wonderful so the people too, every one and every faces shining too!I just tried to push the unwieldy big glass Door at main entrance of FIR, as one Asian Guy give me a hand to push it together.So then I ask him directly where I can meet this friends of my professor, but instead to answer me, he ask me with his giggle "so You are the smart and beauty Miriam from Cologne?" than I kick him bag and giggle " I'm not smart but greatly pretty!, and you said it first Smart and then beauty ?" my question make him laughter as a small Boy..and I like that...Our Son laughing like that too now.So I haven't give him a time to answer my first question and start my second comment "don't you know the woman like that man told them they are Beautiful?"Suddenly he stop to laughing and answer me "me Lady, may I answering your questions in short sentence ? "beauty is easy, but smart is not breeze ! it is a hart works"I know the real Answer why for him more important Smart then The beauty really late, on the ceremony in Our Traditional Javanese Weeding ceremony in Solo, it is the influence of his Javanese education from his Mom and I'll tell you later about this.Any way he show and introduce me with his Master DR. Labello, who said directly "oh you know already each other, you both will be a good team"and he look to Mastriand spree with him "and You just show her the computer communication, that's all ..so have a nice Days you Both".I savour every minute with him, he is real good teacher and really patient, this short 3 days with him change many My point of view and of course we become a real good friends.Before we said good Bye, I’ll promised him, to lean about The Javanese Culture and Kejawen ..of course to pleased him :-)), and I'll send him an E-mail from time to time.. I'll write you the next view days....
Di samping Alat-alat pembantu kehidupan Tubuh istriku, yg. tidak sempat melakukan perpisahan secara Normal karena terus dalam keadaan koma.

Aku berbisik agar dia bisa dengan tenang dan tak perlu kuatir utk. Meninggalkan Anak satu2nya yang sangat di sayanginya, karena aku berjanji akan membesarkannya menjadi orang yang 3B(Berhasil,Berguna dan Berbahagia)

Setiap pasangan memiliki Definisi sendiri mengenai kebahagiaan, dan karena itulah mungkin banyak orang menjadi pasangan.

Definisi kami waktu kami mulai in-team ialah bisa tetap memiliki ruang bebas masing2, sehingga kami dapat berhasil mencapai cita-cita masing2 dan dapat berguna untuk manusia lainnya disekitar kami, setelah itu semua terwujud maka akan tercapailah kebahagiaan kami.

Mulut istriku yang di penuhi dengan Selang Respirasi...tampak berusaha bergerak untuk tersenyum, senyum terakhir kalinya sebelum dia pergi meninggalkan kami untuk selamanya.

Mulailah aku hidup sebagai Single Parent, tanpa persiapan sama sekali, sebenarnya akulah yg,seharusnya pergi terlebih dahulu,karena Almarhumah lebih muda 15 tahun daripadaku.

Susahnya adalah bahwa sampai saat itu anakku 95% di urus oleh Mamushka, disamping itu DEA belum bisa menerima kenyataan yg. pahit itu, kematian Ibunya yang merupakan Klimaks dari kesedihannya.

Dua Tahun sebelumnya Nenek (Ibu dari Almarhumah) yang mengasuh dan menjaganya dari Bayi kalau Mamushka dan Aku pergi Kekantor, Meninggal Dunia.

Seminggu sebelum Mamushka wafat Kucing kesayangannya „Herr Müller“ meninggal, dan akhirnya Ibunya...meninggalkan dia juga.

Bisa kurasakan bagaimana hancurnya hati si Manusia kecil ini, karena aku juga seusia dia waktu Ayahku wafat setelah dirawat 4 Bulan di ICCU RSUPN. Cipto Mangunkusumo.

Tetapi aku beruntung masih memiliki Lingkungan yang berazaskan kekeluargaan, dimana keperduliaan dan kehangatan lingkungan masih terasa,Tidak seperti struktur sosial di München yg. Lebih mengutamakan Individualisme!, sangatlah mempersulit keadaan Kami berdua.


Apalagi semasa Mamushka hidupnya lebih senang menyendiri, jadi Anakku walaupun belum Mandiri tetapi lebih senang menyendiri.

Sedangkan aku yg. Semasa kecilku selalu mendengar Semboyan dari Bung Karno; seperti Berdikari dan Vivere pericoloso ini memang menjadikan aku seorang yg. Mampu hidup sendiri tanpa merasa Kesepian,

Aku yang terdidik untuk menjadi Manusia yang bebas dan Mandiri,mampu mengerjakan semuanya sendiri, tetapi semasa kecilku terpaksa bersosialisasi dan berkomunikasi.

Tidaklah terlalu merasa terpukul ketika ditinggalkan Ayahku dan „Sahabatku“ di umur 13 Tahun, karena aku masih memiliki 6 saudara lainnya selain ibuku yg. Memberikan contoh kepada kami semua sebagai Wanita yang lembut tetapi tegar dan cerdik menghadapi segala masalah dengan 7 anak tanpa suami dan Tunjangan Sosial untuk membesarkan kami semua.

Sedangkan anakku, yg.kurang terbiasa utk. Berkomunikasi dan membicarakan masalahnya secara terbuka dan jujur selain kepada ibunya sangatlah banyak mengalami kesulitan yg.besar.

Kesulitan yg. Besar terhadap sekelilingnya di sekolah, terutama anak2 pendatang2 baru dari negara Timur yang taraf pendidikan dan pengetahuannya terbatas, terutama tidak menyukai kalau seorang anak campuran Asia lebih hebat dari mereka ….yang merasa bangsa Eropa ...dan sudah tentu merasa lebih Jerman dari orang Jerman sendiri (ha...ha..ha).

Terkadang terbentas dialam pikirku, mungkin kebanyakan Neo Nazi itu malah dari keturunan Mereka dan bukan orang Jerman aslinya, karena harapan mereka datang ke Jerman untuk mendapatkan Posisi yang baik ...sangat di kecewakan karena Posisi itu sudah di penuhi banyak oleh Orang Asing dan Asia, yang memang berpendidikan dan berprestasi lebih tinggi dari mereka.

Hal ini sangat terasa dari anak2 mereka, yang senang me MOBBING / BULLYING anakku, terlebih setelah aku sering mengantarkan anakku kesekolah sepeninggalan ibunya.

Karena itu di bulan-bulan pertama setelah Mamushka meninggalkan kami, terasa dunia ini gelap, karena aku harus menyibukan diri 24X7, setiap menitnya untuk menyelamatkan anakku yang mulai memasuki masa Puberitasnya.

Aku berharap hal ini tidak akan di alami orang lain. Dimana aku harus menjadi Kacung, yang mengongkosi Majikannya dan bertanggung jawab atas segala kesalahan Majikan kecilnya itu.

Aku sangat bersyukur adanya Frau Boehmer (klassenlehrerin / Wali Kelas) dan Frau Herkelmann (schulpsychologie / penasehat psikologi sekolah), yang secara intensif membantu dan berkonsultasi denganku dan DEA.

Wah aku sudah ngantuk...aku teruskan besok....bis Morgen ...Servus

Blog ini sebenarnya dibuat oleh Almarhumah istri saya  utk. Mengenang kehidupan nya selama 6 Tahun di Indonesia, setelah kami terpaksa meninggalkan Bali dan semua yang telah kami berdua bangun dengan Berhasil, di sebabkan Bom Bali.

Tetapi karena kesibukannya setelah kami kembali ke München sekitar 14 Tahun yg. Lalu, akhirnya tidak di teruskan lagi.
Karena itu akan saya teruskan mengisinya sebagai Buku harian dan mengingat kenangan saya, sekembalinya kita berdua (Saya dan Anak) saya ke Indonesia.

Sebagai kesan, pendapat ataupun Kritik membangun yang sedikit pedas dari seorang anak bangsa yang sudah hidup sekitar 40 tahun di Luar Indonesia,,,dan hidup di beberapa negara dalam pekerjaan saya dibidang IT.


Terima-Kasih sudah meluangkan Waktu untuk membaca Blog ini, dan saya sangat senang atas tanggapan ataupun pertanyaan dalam bertukar pendapat dan pengalaman kita bersama.

Tepatnya tanggal 8 Agustus 2014 Mamisa, istriku mendadak meninggalkan kita semua, tanpa peringatan sama sekali!...Tanpa sakit apapun dan dalam keadaan segar bugar.
Istri Saya ternyata menderita Aurism dari garis keturunan ibunya, yang tak seorangpun dari kami mengetahui Penyakit itu.

Sore itu tgl. 6 Agustus 2014, seusai pulang kantor ...istriku ingin berolah raga bersama Anak Kami, Berlari memutari Taman Air dan perbukitan didaerah Allach,Munich

Menurut Anak Kami, Almarhumah sempat berbicara dengannya dan ingin mengganti Pakaian...untuk bersiap-siap lari bersama...tetapi 3 Menit kemudian terdengar suara keras dari Kamar tidur!

Anak Kami langsung lari kekamar Tidur kami dan menemukan ibunya sudah mengeletak Tidak sadarkan diri, dengan Cepat Anak saya memanggil Ambulance 112 dan seperti biasa Ambulance pun datang dibawah sepuluh menit ….merekapun dapat kembali menghidupkan istri saya yang sudah dalam keadaan koma dan langsung membawa kerumah sakit.

Setelah Dua Hari dalam keadaan yang mengenaskan, karena hidup istri saya hanya bergantung pada semua peralatan di Ruang ICCU tersebut.

Dari Kelima Parameter di Bedside Monitor terlihat Vital Sign dari istri saya selama 24 jam tidak membaik bahkan melemah, Parameter ECG harus dibantu Pompa Picu agar Detakan jantung stabil; begitu juga dengan Parameter Respirasi yg. Sedikit terganggu, menyebabkan Parameter SpO2 dan NIBP juga memburuk.

Setelah berunding dengan Para Dokter Ahli dan Anak saya yang saat itu berusia 13 Tahun, maka di ambil keputusan untuk menghentikan semua mesin Pembantu dan merelakan kepergiannya.

Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un


(Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jugalah kami kembali). (Al-Baqarah 2:156)


Selamat Pagi Teman2 dan para pembaca semua!
Kesedihan masih terasa diantara kita semua karena "Bom Sarinah", dan turut berbela Sungkawa utk, Keluarga korban yang terkena.

Di bawah ini ada 2 Tulisan ataupun sajak yang saya Ambil dari Kelompok WhatsApp, yg. berkesan.


Tulisan untuk teroris : (mohon maaf saya tidak tahu siapa penulisnya)

maaf tak mengucap salam, karena aku tdk tahu 
apa agamamu dan apa yang kau percayai.

Kitab apa yag kau baca hingga kau merasa paling benar, kitab 
mana yang mengajarkan membunuh orang diluar peperangan..?

pemimpin mana yang kau ikuti hingga 
langkah yg kau ambil melampaui ajaran para nabi?

ibu mana yang melahirkanmu hingga mati rasa belas 
kasihmu ?

ayah mana yang membimbingmu sehingga rasa ketakutan yg kau cipta dalam aksimu ?

makanan apa yg mengalir ke tubuhmu sehingga kau merasa terpilih sebagai mesin pencabut nyawa.

pakaian apa yg. kau pakai hingga kau merasa gagah, tak tersentuh neraka

kalau kau pikir tindakanmu akan mencapai mimpimu, kupastikan jauh dari itu...tumpuan kebencian terarah pada kelompokmu...

bagaimana mimpimu membangun peradaban tanpa ada simpati dari manusia?

alih2 menegakan kebenaran...yang lahir justru 
antipati..ketakutan.. makin lama generasi ini makin jauh dari agama..takut dengan agama...saat itu tiba, kau ikut bertanggungjawab mengatheis kan dunia ini.

pasti kau bukan representasi islam, pasti juga bukan representasi nasrani, hindu, budha...agama yg kutahu mengajarkan cinta kasih sesama manusia, kelembutan, kesabaran, sembah pada Tuhan  seharusnya menghindarkan perbuatan keji dan munkar!!
Nennt mich einfach Miri. Mehr über mich kannst Du auf unserer Website erfahren, welche Mastri und ich zusammen gemacht haben und zwar mit viel Liebe und Zuneigung.

Es war eine harte Zeit für uns beide, aber die Erinnerung daran ist sehr schön.


Ich möchte Euch berichten, was in den letzten 10 Jahren meines Lebens passiert ist.

Besonders möchte ich euch erzählen über mein Lebenswandel, meine Romanze und meine Reise Erfahrungen in Indonesien.

Selbstverständlich freue ich mich sehr über alle Kommentare / Anregungen/Kritiken.

Also: Nach langen, langen Jahren habe ich meinen Freund wieder getroffen.....und ein reizendes Baby wurde im Jahr 2001 im Solo (Surakarta) geboren, Inzwischen ist er bereits vier Jahre jung (Foto).
ntitled Documen
Hallo Mein Blogger Besucher!,

ich begrüße Euch herzlich und bedanke mich für eure Zeit, meinen Blogger fleißig zu lesen! Es ist ein Lebensgeschichte und lange Reiseerfahrung.

Ich werde versuchen, Euch einen interessanten Erfahrungsbericht zu geben und hoffe, ihr lest ihn mit Genuss. Selbstverständlich freue ich mich über Eure Kommentare und Anmerkungen.
Eigentlich ging ich mich zwei Zielen nach Indonesien: Erstens natürlich insgeheim, um meinen ehemaligen „Computerlehrer“ mit viel Glück vielleicht doch wieder zu sehen und zweitens dienstlich, J um Stoff für meine Magister Arbeit zu sammeln.

Mein „Computerlehrer“, der mich immer von weit weg mit seinen tröstenden und motivierenden E-Mails über Jahre begleitet hatte, egal ob ich in Indien, Leiden, Kalifornien, Philippinen, Singapur oder in Tokio war.
Er ist mein bester Freund geworden und später wurde er auch mein liebster Ehemann, jemand der immer versucht zu verstehen und mir zu helfen und mich auch immer nun ließ, was ich gerne wollte.

Also ich schreibe über meine Gedanken und Gefühle, meinen Alltag um die plötzliche Trennung von meinem liebsten Mann besser zu verkraften.

Ich fange an, wie ich mich fühlte, als ich beschlossen habe, in Indonesien weiter zu leben. Alle erstes natürlich ob ich einen Kulturschock bekommen werde oder nicht.

In der Umgebung von Mastri Familie konnte das bestimmt nicht passieren, da seine Familie damals als „politische Flüchtlinge“ alle in Deutschland lebten.

Und die Indonesische Kultur ist meine dritte Kultur, die ich leben sollte aber bin ich denn tapfer genug und nicht so beeinflusst von meinen ersten beiden Kulturen, in denen aufgewachsen bin?
Die Landessprache „Bahasa Indonesia“, und damit auch die Denkweise der Urahnen seines Volks, beherrschte ich nach unserer dreijährigen E-Mail-Korrespondenz schon perfekt .

Werde ich glücklich existieren, ich meinte nicht existieren mit materiellen Dingen, sondern innerlich reich, da ich ja als drittes Kind eines Weinbauers aufgewachsen bin und immer unterwegs war, legte ich nicht so viel Wert auf materielle Dinge und kann mit ganz einfachen Dingen glücklich sein.

Einerseits erwarte ich, was heutzutage schon als Luxus oder Rarität bezeichnet werden kann Zeit für einander, um eine freundliche Umwelt und ein gute Kommunikation ermöglichen zu können.

Eines weiß ich sicher, dass ich mich neben ihn und in Umgebung seiner Familie wohlfühlen kann. Ich werde aber nicht zu Hause rumhocken und Kaffe trinken, nein, das kann ich wirklich nicht!

Ich muß hin und wieder überall schnuppern können, so wie in meiner Kindheiten, als ich mit meinen Geschwistern auf dem Pferd durch Wiese und Wald geritten bin oder während meines Lebens in verschiedenen Städten und Metropolen auf dieser Erde.

Und ich werde keine Langeweile haben, da ich als Ethnologin nie auslernen kann in einem 17.508 Inseln und mehr als 300 unterschiedlichen Sprachen. Nun muss ich kurz aufhören, mein vierjähriger kleiner Mann hat mich gerufen, aber ich verspreche Euch bald wieder weiter zu schreiben, sobald ich Zeit habe in meinem Alltag als alleinerziehende Mutter und Geschäftsfrau. Naja, eine echte Emanze eben, wie meine Schwiegermutter gerne sagt.